IPAL DOMESTIK

pt musi hutan persada, ipal pt musi hutan persada

Pengertian ipal domestik ?

KepmenLH no 112/2003:

– Air limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman (real estate), rumah makan (restauran), perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama.

DISAIN PROSES PENGOLAHAN SECARA BIOLOGI

Seluruh air limbah yang dihasilkan dari kegiatan domestik yaitu air limbah dapur, air limbah kamar mandi, air limbah pencucian, air limbah wastafel, air limpasan dari tangki septik dan air limbah lainnya, seluruhnya dialirkan ke bak pemisah lemak atau minyak. Bak pemisah lemak tersebut berfungsi untuk memisahkan lemak atau minyak yang berasal dari kegiatan dapur, serta untuk mengendapkan kotoran pasir, tanah atau senyawa padatan yang tak dapat terurai secara biologis.

Selanjutnya limpasan dari bak pemisah lemak dialirkan ke bak ekualisasi (Sum Pit) yang berfungsi sebagai bak penampung limbah dan bak kontrol aliran. Air limbah di dalam bak ekualisasi selanjutnya dipompa ke unit IPAL.

Proses di dalam unit IPAL untuk Ipal Domestik sbb :

  1. 1. Pengendapan Awal

pertama air limbah dialirkan masuk ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran organik tersuspensi. Selain sebagai bak pengendapan, juga berfungsi sebagai bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, sludge digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur.

Air limpasan dari bak pengendap awal selanjutnya dialirkan ke Chamber Equalisasi / Anoxic dengan arah aliran dari atas ke bawah.

  1. 2. Equalisasi Chamber / Anoxic Chamber

Equalisasi Chamber berfungsi untuk  Ruang pengumpul air limbah di ruang ini di aduk oleh hembusan angin blower dengan diffuser untuk mengaduk air limbah sebelum di alirkan ke  bak kontaktor anaerob (biofilter Anaerob) dengan arah aliran dari atas ke bawah.

  1. Anaerobic Chamber

Anaerobic Chamber berfungsi sebagai tempat penguraian zat –zat organic yang ada dalam air limbah dengan bantuan bakteri anaerobic/ fakultatif aerobic. Lapisan film mikroorgamisme akan tumbuh pada permukaan media dan menguraikan zat organic yang belum terurai di Anoxic Chamber. Kumpulan mikroorganisme, umumnya bakteri terlibat dalam transformasi senyawa organic menjadi metan. Lebih jauh lagi, terdapat interaksi sinergis antara bermacam- macam kelompok bakteri yang berperan dalam penguraian limbah. Meskipun beberapa jamur (fungi) dan protozoa dapat ditemukan dalam penguraian anaerobik, bakteri tetap merupakan mikroorganisme yang paling dominan bekerja didalam proses penguraian anaerobik. Sejumlah besar bakteri anaerobik dan fakultatif (seperti : Bacteroides, Bifidobacterium, Clostridium, Lactobacillus, Streptococcus).

terlibat dalam proses hidrolisis dan fermentasi senyawa organik. Keseluruhan reaksi dapat digambarkan sebagai berikut (Polprasert, 1989) :

Senyawa organic ®CH ­ +CO ­ +H ­ +NH ­ +H S ­

Lumpur yang dihasilkan pada proses anaerobic lebih sedikit (3 – 20 kali lebih sedikit dari pada proses aerobic). Anaerobic Chamber dilengkapi dengan media sarang tawon sebagai tempat berkembang biak bakteri dan support media yang terbuat dari FRP.

honeycom, media biofilter, media anaerob aerob, sarang tawon pvc
Gambar A. Sistem Biofilm Tercelup Anaerobic.
  1. Aerobic Chamber

Aerobic Chamber berfungsi sebagai proses reaksi biologi untuk menguraikan zat organic dalam air limbah dengan bantuan bacteria aerobic sambil di aerasi. Pada proses aerob hasil pengolahan dari anaerob yang masih mengandung zat organic dan nutrisi diubah menjadi sel bakteri baru, hidrogan maupun karbon dioksida oleh sel bakteri dalam kondisi cukup oksigen. Persamaan umum reaksi penguraian aerob adalah :

Bahan Organik + O2 ¾¾¾¾¾® mikrobaaerob sel baru + energi untuk sel + CO2 + H2O +

Produk akhir lainnya.

Udara dihembuskan di bagian bawah tangki dengan menggunakan diffuser sehingga mikroorganisme yang tumbuh dan menempel pada media menguraikan zat organic. Aerobic Chamber terdiri dari dilengkapi dengan media sarang tawon atau bioball sebagai tempat berkembang biak bakteri, support media yang terbuat dari FRP dan diffuser di bagian bawah tangki.

ruang anaerob aerob, diffuser jager, cara pasang diffuser jager
Gambar B. Sistem Biofilm Tercelup Aerobic
  1. Sedimentation Akhir Chamber

Sedimentation Chamber berfungsi sebagai tempat pemisahan padatan mikroorganisme hasil proses biologi dan dengan air jernih secara gravitasi. Sedimentation Chamber dilengkapi dengan lamella, air lift dan scum skimmer.

Lamella yang dipasang pada bagian atas Sedimentation Chamber dengan sudut kemiringan tertentu mempercepat pemisahan padatan dengan air olahan. Padatan yang diendapkan di dasar tangki dibuang ke Sedimentasi Awal secara berkala dengan menggunakan air lift. 

  1. Effluent Chamber

Effluent Chamber berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air hasil olahan dan tempat diisinfektan. Air olahan dikontakkan dengan klorin padat untuk membunuh bakteri – bakteri pathogen yang terkandung dalam air olahan sehingga air olahan aman di buang ke sungai atau saluran umum.

ipal domestik by biofive teruji baku mutu sesuai dengan peraturan Lingkungan Hidup, KepmenLH No. 68 Tahun 2016.

ipal domestik, ipal komunal
ipal domestik 80m3
ipal domestik, ipal komunal, ipal anaerob aerob system
Ipal Domestik 45m3

Brosur ipal dan Referensi

BROSUR DAN REFERENSI

IPAL / STP / WWTP BIOFIVE

Biofive telah banyak bekerjasama dengan kontraktor, Developor, dan end user di seluruh Indonesia dalam memasarkan dan menjual Tangki IPAL / STP / WWTP dengan merk BIOFIVE yang telah di PATEN untuk menjaga kualitas dari produk – produk yang di hasilkan maka kami selalu menginovasi dalam pengembangan Teknologi pengolaha air limbah dalam skala kecil sampai besar dengan menggunakan Mesin Filament Winding system dan bahan – bahan fiberglass import serta di dukung oleh tenaga ahli yang telah mumpuni di bidang IPAL agar tercipta produk yang baik dan hasil pengolahan yang dapat mengikuti dari ketentuan peraturan dari BPLH setempat.

Adapun beberapa pengguna IPAL Biofive sbb :

PT. LG Electronic Indonesia – STP                 PT. Baisan Indonesia – STP       PT Joenoes Ikamulya – STP

PT. Panca Nabati – STP                                   PT. Bumi Karya Persada – STP      Universitas Polinema Malang

PT. YogaTama Wahana Karya – STP             Ijen Resort – WWTP                      RSIA Citra Arafiq

PT. Batu Tua Tembaga – STP                        PT. Trimitra Wisesa Abadi – STP   RSIA Permata Serdang

PT. Astha Saka – STP                                       PT. Nikoi Island – STP                      PT. WIKA

PT. Amanat Sentosa -WWTP                        Restoran Rumah Kayu – WWTP / STP    PT. Waskita

PT. Teras Sejahtera Tehnik – WWTP          Hotel Bliss Soeta – STP                         PT. Totalindo Eka Persada

Hotel Summerbird – IPAL                             PT. Exitama – STP                                PT. Hutama Karya

PT. Ssyang Yong – IPAL                                 PT. Djarum Indonesia – IPAL             PT. Taikisa

PT. Wika – STP                                                PT. KOBE – WWTP.                               PT.  Kapuk Naga Indah

dan banyak lagi perusahaan dan instansi serta individu yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, adapun tujuan kami menuliskan beberapa perusahaan atau instansi yang telah menggunakan produk kami agar dapat menjadi testimoni yang nyata dari Ipal Biofive.

Foto Testimoni Ipal Biofive

Referensi Pengguna STP, Ipal, Wwtp, Grease Trap Biofiv, pdf

Brosur Ipal Biofive, Ipal Individu, Ipal Komunal, Ipal Domestik,

Brosur Ipal Komunal Biofive

ukuran untuk menentukan pilihan besar volume Tangki Ipal Organik dapat di pakai untuk pengolahan air limbah dari pasar, Pemotongan Hewan.

Brosur WWTP, IPAL Biofive, IPAL ORGANIK

Untuk Respon cepat mengenai produk ipal dan harga ipal dapat langsung menghubungi :

Flowrence, SE
Hp. 0812 190 90 777   |  0878 7679 0777 ( WA )
Telp. 021-22 55 3770   Fax. 021-2255 6581.
Email : marketing@biofive.co.id

 

IPAL Pengolahan Air Limbah Rumah Potong Hewan

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN
( IPAL RPH )  DENGAN PROSES BIOFILTER

Pencemaran lingkungan dan pengawasan terhadap kualitas daging Sapi potong di daerah Sumatera sangat diperhatikan oleh Pemerintah Sumatera melalui Suku Dinas Peternakan Sumatera berupaya untuk membuat pengolahan air limbah rumah potong hewan yang berasal dari pasar pemotongan hewan ( RPH ) sapi agar tidak mencemari lingkungan di sekitarnya yang banyak terjadi di wilayah lain, membangun suatu instalasi pengolahan air limbah ( IPAL ) rumah potong hewan sebelum pasar itu beroperasi sangatlah bagus di banding membangun ipal setelah terjadinya pencemaran karena pasar sudah beroperasi.

Tujuan dan sasaran dari kegiatan ini adalah merancang bangun instalasi pengolahan limbah cair rumah potong hewan khususnya hewan sapi dengan proses biofilter. Sedangkan sasaran yang diperoleh adalah diperolehnya teknologi pengolahan limbah cair rumah potong hewan yang dapat mengatasi pencemaran lingkungan.

Disain unit alat pengolahan air limbah dirancang berdasarkan jumlah dan kualitas air baku kubikasi perhari untuk menentukan Volume pengolahan Tangki ipal biofilter serta disesuaikan dengan ketersediaan lahan yang ada. Tangki Ipal pengolahan air limbah tersebut akan di rancang dalam bentuk yang kompak agar pemasangan/pembangunan serta operasinya mudah, serta diusahakan menggunakan energi sekecil mungkin.

Proses pengolahan limbah RPH Sapi menggunakan Proses Pengolahan IPAL BIOFILTER, Proses pengolahan air limbah rumah potong hewan dengan sistem biofilter anaerob-aerob dapat dilihat pada gambar 1. Seluruh air limbah dari kegiatan rumah potong hewan di alirkan ke saluran pembuangan dan di lewatkan melalui saringan kasar ( bar screen ) untuk menyaring sampah / padatan yang berukuran besar seperti : Bulu hewan, plastik, daun, kertas, usus. dll. Setelah melalui screen air limbah di alirkan ke Grease Trap / Bak pemisah lemak atau minyak untuk memisahkan lemak atau minyak serta untuk mengendapkan kotoran pasir, tanah atau padatan-nya yang berasal dari kegiatan pemotongan hewan yang tidak dapat di terurai secara biologis.

Selanjutnya limpasan dari bak pemisah lemak dialirkan ke bak ekualisasi yang akan berfungsi sebagai bak penampungan limbah dan bak kontrol aliran yang akan selanjutnya di alirkan ke Tangki IPAL. Di dalam unit IPAL tersebut pertama air limbah di alirkan masuk ke dalam bak pengendapan awal yang berfungsi untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir, kotoran organik yang tersuspensi, ruang pertama ini berfungsi pula sebagai slugde digester ( pengurai lumpur ) atau sebagai bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan dan penampung lumpur.

Air limpasan dari ruang  pengendapan awal akan di alirkan ke ruang kontaktor anaerob dengan arah aliran dari bawah ke atas dimana ruang kontaktor anaerob telah diisi oleh media biofilter honey comb / sarang tawon pvc, penguraian zat-zat organik yang ada dalam air limbah dilakukan oleh bakteri anaerob atau facultatif aerobik. Setelah beberapa hari operasi maka di permukaan media biofilter akan tumbuh lapisan film mikro-organisme yang berfungsi untuk mengurai zat organik yang tidak terurai di ruang pengendapan awal.

Air limpasan dari  ruang kontaktor anaerob dialirkan ke ruang kontaktor aerob. Di dalam ruang kontaktor aerob ini di isi dengan media dari bahan plastik tipe sarang tawon, serta di aerasi atau di hembus dengan udara dari mesin blower  sehingga mikroorganisme yang ada akan mengurai zat organik yang ada dalam air limbah serta tumbuh dan menempel pada permukaan media. Dengan demikian air limbah akan kontak dengan mikroorganisme yang tersuspensi didalam air maupun yang menempel pada permukaan media yang mana hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi penguraian Zat organisasi, Deterjen serta mempercepat proses nutrifikasi, sehingga efisiensi penghilang ammonia menjadi lebih besar. Proses ini disebut juga proses Aerasi kontak ( Contact Aeration ).

Dari Ruang Aerasi, Air dialirkan ke bak pengendapan akhir. Didalam Ruang ini Lumpur aktif yang mengandung massa mikro-organisme diendapkan dan dipompa kembali ke bagian inlet pengendapan awal dengan pompa sirkulasi lumpur. Sedangkan air limpasan ( Over Flow ) dialirkan ke ruang khlorinasi. Di dalam ruang kontaktor khlor untuk dikontakkan dengan senyawa senyawa khlor untuk membunuh micro-organisme patogen. Air olahan atau air buangan yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi  sudah dapat di alirkan langsung ke sungai atau saluran umum.

pengolahan air limbah rumah potong hewan

Keunggulan IPAL pengolahan air limbah rumah potong hewan dengan System BIOFILTER Anaerob-Aerob :

  • Biaya operasinya rendah dan murah.
  • Terbukti mampu menurunkan Zat Organik ( BOD, COD ), Ammonia, Padatan tersuspensi ( SS ), phospat, nitrogen dan lainnya.
  • Pengoperasiannya Mudah ( Pengoperasiannya tanpa dilakukan sirkulasi lumpur, tidak terjadi masalah “bulking” seperti pada proses lumur aktif ( Activated sludge process ).
  • Lumpur yang dihasilkan sedikit ( 10-30% ).
  • Dapat digunakan untuk pengolahan air limbah dengan konsentrasi zat organik rendah maupun tinggi.
  • Tahan terhadap fluktuktuasi jumlah air limbah maupun fluktuasi konsentrasi.
  • Pengaruh penurunan suhu terhadap efisiensi pengolahan kecil.
  • Tidak menyebabkan Euthropikasi.

Untuk Respon cepat mengenai produk ipal dan harga ipal dapat langsung menghubungi :

FLOWRENCE, SE
Hp. 0812 190 90 777   |  0878 7679 0777 ( WA )

IPAL LABORATORIUM

IPAL  LABORATORIUM KIMIA. 

Limbah menurut Recycling and Waste Management Act (krW-/AbfG) didefinisikan sebagai benda bergerak yang diinginkan oleh pemiliknya untuk dibuang atau pembuangannya dengan cara yang sesuai, yang aman untuk kesejahteraan umum dan untuk melindungi lingkungan.

Adanya bahan kimia di universitas di mulai dari pemberian bahan yang diperlukan dari gudang bahan kimia kepada pekerja atau mahasiswa yang mengambil mata kuliah praktek di laboratorium. Bahan tersebut digunakan untuk sintesis maupun analisis. Karena tujuan penggunaannya maka terbentuk bahan awal, produk samping, pelarut yang digunakan dan bahan kimia yang terkontaminasi, dimana bahan ini harus diurai atau dibuang jika daur ulangnya tidak mungkin dilakukan. Berlawanan dengan limbah industri, limbah kimia dari laboraotrium di universitas yang terbentuk biasanya dalam jumlah kecil dari campuran yang sangat kompleks. Intinya, hal ini menyatakan jumlah limbah yang berarti, yang harus dibuang dari universitas dengan menggunakan dananya sendiri.  Untuk membuang limbah laboratorium, yang mungkin berbeda pada tempat yang berbeda pula, cara yang sesuai bergantung pada tipe percobaan yang dilakukan dan bahan kimia yang digunakan. Tetapi beberapa tipe limbah berbahaya yang dihasilkan tidak dapat dibuang dalam bentuk aslinya dan harus diolah terlebih dahulu. Dengan bantuan proses yang sesuai, limbah tersebut dapat dihilangkan sifat racunnya di tempat bahan tersebut dihasilkan. Keuntungan dari penghilangan sifat racun juga mengurangi resiko kontaminasi pada pekerja yang tidak berpengalaman dalam menanganinya bila terjadi kecelakaan dengan limbah ini, oleh karena itu hal ini juga untuk menghindari resiko terhadap kontaminasi lingkungan.

ipal laboratorium

 

Konsep manajemen limbah ipal laboratorium

Menghindari, mengurangi dan membuang limbah laboratorium

Akan lebih baik untuk menghindari pembentukan limbah pada langkah yang sangat awal. Hal ini juga merupakan tujuan utama dari Recycling and Waste Management Act (krW-/AbfG) yang dikemukakan pada tahun 1996. (Nama lengkapnya: Undang-undang untuk manajemen daur ulang dan menyelamatkan limbah buangan yang aman terhadap lingkungan). Setelah aturan tersebut, setiap orang yang mengembangkan, menghasilkan, mengolah dan memproses atau menyebarkan bahan mempunyai komitmen untuk menghindari limbah. Jika tidak mungkin untuk dihindari maka jumlah limbah harus dikurangi dengan pengumpulan terpisah dan pengukuran daur ulang. Akhirnya, setelah semua usaha ini dilakukan, jumlah limbah yang masih tersisa harus dibuang sebagai ”tanpa resiko” terhadap kesehatan dan lingkungan. Penggunaan kembali limbah laboratorium dapat dilakukan, misalnya: untuk bahan kimia yang telah digunakan setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh, hal ini paling sesuai untuk pelarut yang telah digunakan. Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform dan dietil eter dikumpulkan di dalam laboratorium secara terpisah dan diperlakukan dengan distilasi.

Selama semua pengerjaan (dalam hal ini: percobaan kimia) dimana terbentuk sejumlah besar limbah harus diperiksa dengan hati-hati, apakah mungkin untuk mengurangi jumlah limbah dengan penggunaan pengukuran yang sesuai (misal: kondisi reaksi lainnya, penurunan skala volume reaksi). Hanya dalam kasus dimana pengurangan jumlah limbah lebih lanjut tidak mungkin secara prophylaxis dan pengukuran daur ulang, maka cara lama untuk pembuangan limbah harus dilakukan.

Limbah Berbahaya di Laboratorium

Kelompok penting dari limbah adalah bahan kimia sisa/residu yang biasanya dikelompokkan sebagai limbah berbahaya. Senyawa ini dilarang untuk dibuang melalui pengumpulan limbah publik atau melalui saluran air limbah yang umum. Tipe limbah yang digolongkan sebagai limbah berbahaya harus dikumpulkan secara terpisah dan dikirimkan oleh penghasilnya kepada perusahaan pembuangan yang telah disetujui. Penghasil limbah juga harus mengirimkan data yang sesuai tentang tipe limbah berbahaya tersebut. Berdasarkan tipe limbahnya, nilai ambang batas tertentu untuk kandungan dan sifat bahan kimia harus dipatuhi. Senyawa yang hanya bisa dibuang dengan biaya tinggi harus dihindari, jika dimungkinkan diganti dengan bahan pengganti yang sesuai, yang dapat dibuang dengan biaya yang lebih efektif dan dengan cara yang ramah terhadap lingkungan.

Pengumpulan Limbah Berbahaya

Limbah berbahaya dikumpulkan dalam wadah khusus, mematuhi aturan yang berlaku(misalnya:”Ordinance on the Hazardous Substances, juga lihat: “Legal Conditions for the Handling of Hazardous Substances” and ”Technical Guidelines on Safety in Chemical Laboratory Courses”). Tipe limbah yang berbeda sebaiknya tidak dicampur menjadi satu. Untuk setiap tipe limbah digunakan wadah khusus, yang telah diberikan oleh universitas untuk pengumpulan. Wadah ini akan dikembalikan ke gudang penyimpanan limbah. Wadah tersebut tidak boleh diisi lebih dari 90% (untuk menghindari tumpahan selama pengangkutan) dan harus ditutup rapat serta diberi label dengan benar. Jika tidak, perusahaan penanganan limbah tidak diijinkan untuk menerimanya. Wadah yang rusak, bocor atau terkontaminasi dengan senyawa berbahaya juga tidak dapat diterima.  Aturan umum untuk penanganan limbah berbahaya adalah menghindari resiko yang membahayakan terhadap manusia dan lingkungan baik selama penyimpanan, pengangkutan dan pembuangan bahan-bahan tersebut.

Air Limbah yang Terbentuk Di Laboratorium

Air limbah laboratorium adalah cairan apa saja yang berasal dari tempat pencucian. Pada kasus yang ideal biasanya mengandung sedikit air. Pada praktek sehari-hari, limbah ini biasanya mengandung larutan berair yang telah terlebih dahulu dinetralkan menjadi pH 6 sampai 8 dan tidak mengandung logam-logam berat.  Selama pembuangan air limbah, ambang batasnya harus sesuai dan biasanya nilai ini diberikan oleh pejabat pengurus air limbah yang berwenang. Harus dipatuhi bahwa dilarang mengencerkan air limbah dalam usaha untuk mencapai nilai ambang batas ini. Sebagai contoh Tabel 1-3 menyajikan nilai ambang batas untuk polutan yang berbeda di Technical University of Braunschweig. Bila hasilnya melebihi nilai tersebut maka biaya perlakuan air limbah akan membengkak.  Senyawa yang diijinkan untuk dibuang ke dalam air limbah adalah senyawa yang tidak terdapat dalam tabel berikut, tidak digolongkan sebagai senyawa berbahaya, dan jika bahan tersebut tidak berbahaya untuk lingkungan dan untuk pengoperasian instalasi pengolahan air limbah ipal laboratorium.

Parameter Dasar yang Penting Untuk Kualitas Air Limbah

Nilai pH dari air limbah harus berkisar antara 6,0 sampai 10,5

Temperatur tidak melebihi 35oC

Toksisitas air limbah harus lebih kecil dari nilai yang dapat mempengaruhi proses biologi pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL ), pembuangan lumpur atau penggunaan lumpur.

• Konsentrasi zat warna dalam air limbah harus kurang dari nilai yang dapat menyebabkan perubahan warna pada IPAL umum.

• Nilai ambang batas untuk fenol dibuat rendah (0,025 mg/L air limbah) karena senyawa ini dapat menyebabkan rasa-sakit yang sangat susah dihilangkan selama pemurnian air.

• Nilai ambang batas untuk senyawa yang menggunakan oksigen seperti natrium sulfit, garam besi (II) dan tiosulfat ditetapkan 50 mg/L air limbah.

Tabel 1: Senyawa anorganik – Nilai ambang batas (TLV) untuk kation

Kation TLV (mg/L)
Antimoni 0,25
Arsen 0,05
Barium 1,0
Timbal 0,5
Kadmium 0,5
Kromium 0,5
Kromium (VI) 0,1
Kobalt 1,0
Tembaga 0,5
Nikel 0,5
Merkuri 0,025
Perak 0,25
Zinc 2,5
Tin 0,5

Tabel 2: Senyawa anorganik – Nilai ambang batas (TLV) untuk anion

Anion TLV (mg/L)
Sianida 10
Fluorida 25
Sulfat 300
Sulfida 1,0

Catatan : larutan berair yang tersisa setelah ekstraksi dengan diklorometana atau

kloroform harus dibuang sebagai limbah berbahaya (mengandung hidrokarbon

terklorinasi, VOX) atau harus dibuat tidak volatil dengan menggunakan metoda yang

sesuai (misalnya: purging).

Catatan Khusus Pada Pembuangan Limbah Kimia Dari Laboratorium

Dianjurkan untuk mendetoksifikasi sejumlah kecil limbah bahan kimia berbahaya di laboratorium oleh staff yang berkompeten. Keterangan lebih rinci tentang prosedur yang dapat digunakan terdapat pada cara pengerjaannya. Tipe limbah berbahaya berikut selalu terjadi pada pekerjaan di laboratorium. Oleh karena itu, berikut ini diberikan beberapa informasi untuk mengolah dan membuangnya.

Bahan kimia sisa:

Sebagai bahan kimia sisa, hanya bahan berikut yang dapat dibuang yaitu jika

• penyusunnya telah diketahui

• tidak digolongkan sebagai bahan yang mudah meledak, dan

• tidak bersifat radioaktif

Semuanya harus tidak mengandung penyusun yang sangat beracun seperti dibenzodioksin dan furan terpoliklorinasi (PCDD/F), bifenil terpoliklorinasi (PCB) atau bahan untuk perang. Wadah limbah harus diberi label dengan benar meskipun pada wadah yang kecil. Bejana kecil dan vial yang digunakan untuk produk reaksi dari pekerjaan lab dapat dikumpulkan dalam wadah untuk bahan padataan dan diberi keterangan, contohnya: sebagai “produk sintesis dari pekerjaan lab kimia anorganik dalam vial). Jika bahan kimia tidak diketahui (misal : dalam bejana tanpa label), dianjurkan untuk mengelusidasi tipe dari senyawa yang tersebut. Bahan kimia yang telah digolongkan pada golongan limbah tertentu harus dibuang sesuai dengan golongan tersebut. Sebagai contoh adalah asam klorida. Bahan ini dimasukkan ke dalam kelompok limbah “asam anorganik, campuran asam dan mordants. Artinya, HCl harus tidak dibuang sebagai bahan kimia sisa/residu. Bahan kimia lama yang disimpan di dalam bejana tertutup sebaiknya ditawarkan kepada kelompok atau institusi lain untuk kepentingan yang lain. Bahan ini dapat dibuang hanya jika tidak ada seorangpun yang tertarik untuk memilikinya dalam jangka waktu yang telah ditentukan.  Terdapat pula pengambilan kembali bahan kimia dan pelarut dalam jumlah besar oleh pembuat bahan kimia tersebut. Sebagai contoh, Perusahaan Merck menawarkan suatu layanan dengan nama Retrologistics. Bahan kimia yang dikirimkan akan diuji kondisinya dan tipe serta jumlahnya didokumentasikan. Kandungan dari bejana kecil dengan bahan kimia yang diketahui akan digabungkan menjadi jumlah yang lebih besar. Setelah analisis dan kontrol kualitas, senyawa tersebut akan digunakan dalam produksi dan sintesis. Jika penggunaan kembali tidak dimungkinkan, bahan kimia tersebut akan dibuang menurut aturan yang telah ditetapkan.

Asam Anorganik, Campuran Asam dan Mordant

Nilai pH dari larutan ini harus di bawah 6. Larutan asam berair ini harus bebas dari

• sianida (jika tidak, maka akan terbentuk hidrogen sianida !)

• ion amonium (maks. 0,1 mol/L diijinkan), dan

• tipe senyawa organik lainnya (misal : pelarut, lemak dan minyak)

Asam yang telah digunakan yang mengandung asam nitrat (misalnya campuran asam nitrat) harus dinetralkan dan kemudian dibuang sebagai ”dibersihkan dan dicuci dengan air)” Larutan asam yang tidak mengandung logam berat atau bahan berbahaya lainnya dapat dinetralkan dengan natirum hidroksida atau natrium hidrogen karbonat dalam jumlah molar yang sama dan kemudian dibuang ke dalam air limbah laboratorium.

Basa, Campuran Basa dan Mordant

Limbah golongan ini merupakan limbah cair dengan pH di atas 8. Larutan basa hidroksida berair ini harus bebas dari

• sianida

• ion amonium (maks. 0,1 mol/L, jika tidak akan terjadi pelepasan amonia !), dan

• tipe senyawa organik lainnya (misal : pelarut, lemak dan minyak)

Larutan basa yang tidak mengandung logam berat atau bahan berbahaya lainnya dapat dinetralkan dengan asam klorida dengan jumlah molar yang sama dan kemudian dibuang ke dalam air limbah laboratorium.

Air Dari Pembersihan Dan Pencucian yang mengandung garam logam

Limbah golongan ini mengandung larutan berair dari garam logam yang harus bebas dari

• sianida

• ion amonium (maks. 0,1 mol/L diijinkan), dan

• tipe senyawa organik lainnya (misal : pelarut, lemak dan minyak)

Untuk larutan berair ini dimungkinkan terjadinya pengurangan volume yang nyata dengan menggunakan pengukuran konsentrasi.

Berdasarkan pemaparan tersebut maka sistem pengolahan limbah (SPAL) untuk skala laboratorium seperti di atas akan sangat bagus untuk diterapkan pada lingkungan laboratorium kimia.

Untuk Informasi Harga ipal laboratorium dan produk ipal laboratorium dapat menghubungi :

FLOWRENCE, SE

Hp. 0812 190 90 777   |  0878 7679 0777 ( WA )

Telp. 021-3110 8022

Email : marketing@biofive.co.id

 

WhatsApp WhatsApp us