| | | | | | | | | |

IPAL Sudah Terpasang Tapi Masih Gagal Uji Lab? Analisis PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA

Banyak pelaku usaha dan pengelola fasilitas publik memasang IPAL dengan harapan dapat langsung memenuhi baku mutu lingkungan. Namun pada praktiknya, hasil uji laboratorium sering kali tetap gagal, meskipun sistem sudah beroperasi.

Oleh karena itu, PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA melakukan analisis teknis terhadap berbagai kasus di lapangan. Melalui pengalaman tersebut, BIOFIVE menemukan bahwa kegagalan uji lab lebih sering terjadi karena kesalahan desain, operasional, dan pengelolaan biologis, bukan karena teknologi IPAL itu sendiri.


Mengapa IPAL yang Sudah Terpasang Masih Gagal Uji Lab?

Pada umumnya, uji laboratorium limbah cair mengukur parameter seperti BOD, COD, TSS, pH, minyak dan lemak, amonia, serta parameter mikrobiologi tertentu. Jika salah satu parameter melebihi ambang batas, maka IPAL dinyatakan tidak memenuhi baku mutu.

Namun demikian, banyak pengelola tidak menyadari bahwa kinerja IPAL sangat bergantung pada kesesuaian desain dan konsistensi operasional. Akibatnya, sistem yang terlihat normal secara visual tetap menghasilkan efluen yang gagal uji.


1. Desain IPAL Tidak Sesuai Karakter Limbah

Pertama-tama, kesalahan paling umum muncul sejak tahap perencanaan. Banyak pihak merancang IPAL tanpa melakukan analisis karakter limbah secara menyeluruh.

Sebagai contoh:

  • Limbah dapur dan restoran memiliki kadar lemak tinggi, namun pengelola tidak memasang grease trap.
  • Limbah industri kecil mengalami fluktuasi debit, tetapi sistem IPAL menggunakan desain standar rumah tangga.
  • Beban BOD dan COD aktual jauh lebih tinggi dibandingkan asumsi desain awal.

Akibatnya, bakteri pengurai bekerja terlalu berat dan tidak mampu menurunkan parameter pencemar secara optimal.

Solusi BIOFIVE: Oleh sebab itu, PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA melakukan audit karakter limbah dan menyesuaikan desain IPAL menggunakan sistem yang lebih tepat, seperti IPAL Anaerob–Aerob atau IPAL MBBR. Selain itu, BIOFIVE juga menambahkan unit pra-treatment untuk melindungi proses biologis.


2. Proses Biologis Tidak Stabil

Selanjutnya, BIOFIVE sering menemukan IPAL yang gagal uji lab karena proses biologis tidak berjalan stabil. Padahal, sistem IPAL sangat bergantung pada aktivitas mikroorganisme.

Masalah yang sering muncul antara lain:

  • Pengelola menggunakan bahan kimia pembersih berlebihan sehingga membunuh bakteri.
  • Operator menjalankan IPAL tanpa proses seeding bakteri.
  • pH dan suhu limbah tidak dijaga pada kondisi ideal.

Akibat kondisi tersebut, bakteri tidak mampu menguraikan beban organik secara efektif. Oleh karena itu, nilai BOD dan COD tetap tinggi saat diuji.

Solusi BIOFIVE: Untuk mengatasi masalah ini, BIOFIVE menerapkan program aktivasi IPAL dengan bakteri pengurai limbah cair, baik dalam bentuk bubuk maupun cair. Selain itu, tim teknis BIOFIVE mendampingi proses stabilisasi hingga sistem kembali optimal.


3. Waktu Detensi Terlalu Singkat

Di banyak proyek, keterbatasan lahan sering mendorong pengelola untuk memperkecil volume IPAL. Sayangnya, keputusan ini justru menurunkan kinerja sistem.

Ketika waktu detensi terlalu singkat, limbah tidak memiliki cukup waktu untuk terurai secara biologis. Akibatnya, TSS, BOD, dan COD masih tinggi meskipun air tampak jernih.

Solusi BIOFIVE: Sebagai langkah perbaikan, BIOFIVE mengoptimalkan sistem tanpa membongkar total IPAL. Tim teknis menambahkan media biofilter, menerapkan teknologi MBBR, serta mengatur ulang aliran limbah agar waktu kontak meningkat.


4. Operasional IPAL Tidak Konsisten

Selain desain dan teknologi, faktor operasional memegang peranan penting. Sayangnya, banyak IPAL dioperasikan tanpa SOP yang jelas.

Beberapa kesalahan yang sering terjadi meliputi:

  • Aerator sering mati atau tidak bekerja optimal.
  • Lumpur tidak disedot secara berkala.
  • Debit limbah masuk melebihi kapasitas desain.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kinerja IPAL akan menurun secara signifikan dan akhirnya gagal uji laboratorium.

Solusi BIOFIVE: Untuk itu, PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA menyediakan SOP operasional IPAL, pelatihan operator, serta layanan evaluasi rutin agar sistem tetap stabil dan konsisten.


5. Strategi Uji Lab yang Kurang Tepat

Di sisi lain, beberapa pengelola hanya fokus mengejar hasil uji lab tanpa memperbaiki kinerja sistem secara menyeluruh. Pendekatan ini sering menghasilkan solusi instan yang justru merusak proses biologis.

Sebaliknya, BIOFIVE menerapkan pendekatan berbasis stabilisasi sistem. Dengan cara ini, IPAL dapat bekerja optimal sebelum pengambilan sampel uji dilakukan.

Pendekatan BIOFIVE:

  • Menstabilkan bakteri selama 2–4 minggu sebelum uji lab
  • Memantau parameter internal secara berkala
  • Mendampingi proses uji hingga hasil memenuhi baku mutu

Peran PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA

Sebagai penyedia solusi pengolahan limbah, PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA tidak hanya menjual produk. Sebaliknya, BIOFIVE memastikan setiap sistem IPAL bekerja efektif dan berkelanjutan.

Produk dan layanan BIOFIVE meliputi:


Kesimpulan

Singkatnya, IPAL yang gagal uji laboratorium tidak selalu membutuhkan pembongkaran total. Sebaliknya, pengelola dapat menyelesaikan sebagian besar masalah melalui evaluasi desain, stabilisasi biologis, dan perbaikan operasional.

Dengan pendekatan yang tepat, IPAL tidak hanya lulus uji lab, tetapi juga bekerja stabil, efisien, dan sesuai regulasi. Oleh karena itu, analisis teknis dari PT. BIOFIVE SEJAHTERA INDONESIA menjadi solusi yang tepat bagi pengelola IPAL yang ingin mencapai kepatuhan lingkungan secara berkelanjutan.

 

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *